Go

Mengupas Fenomena Kids Zaman Now dalam Kebudayaan

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada October 17th at 10:26am
Share :

Berbicara kebudayaan sebagai sistem struktual adalah suatu keniscayaan. Artinya dalam memandang kebuadayaan-kebudayaan yang terjadi pada masyarakat, sebenarnya, tersimpan struktur-struktur yang membentuknya. Ada hubungan-hubungan yang membentuk sedemikan rupa. Manakala sebuah struktur mengalami perubahan maka mempengaruhi struktur yang lain. Itulah kenapa beberapa kebudayaan bersifat dinamis; struktur berubah maka kebudayaan pun (bisa) berubah. Fenomena-fenomena seperti kids zaman now, misalnya, bisa kita bedah melalui kajian struktural. Kids zaman now bukanlah sekedar sebuah penggunaan code mixing (campur kode) belaka, tetapi mengandung suatu (perubahan) keadaan kebudayaan masyarakat di dalamnya. Dalam tulisan singkat ini, saya mencoba mengkorelasikan bagaimana kebudayaan sebagai sistem struktural melihat fenomena kids zaman now. Dalam penjabaran ini, saya akan menggunakan istilah-istilah yang digunakan dalam kajian strukturalis, seperti hubungan sintagmatis dan paradigmatis, langue dan parole, sinkronis dan diakronis, dan lain-lain. Saya berusaha menjabarkan istilah-istilah tersebut dalam konteks kebudayaan; dengan sedikit mengaitkan dalam istilah lingustik.

Hubungan sintagmatis dan paradigmatis dalam konteks kebudayaan

Konsep hubungan sintagmatis dan paradigmatis dalam memandang kebudayaan sebagai sebuah sistem yang berisi struktur-struktur sangatlah berguna. Ihwal sintagmatis dan paradigmatis memang digunakan dalam kajian linguistik pada mulanya. Namun, dengan melihat kenyataan bahwa dalam kebudayaan juga terdapat hubungan vertikal dan hubungan horizontal maka konsep sintagmatis dan paradigmatis digunakan dalam membedah kebudayaan. Hubungan sintagmatis bisa kita artikan sebagai hubungan antar unsur kebudayaan yang memiliki kepaduan. Maksudnya adalah antar unsur tersebut memiliki hubungan yang erat. Sebagai contoh, anak dan orang tua memiliki hubungan sintagmatis. Seorang anak memiliki rasa hormat kepada orang tuanya. Anak menghormati orang tuanya. Namun, jika orang tua yang mengormati anak maka terjadi ketidakpaduan. Sebagai ilustrasi, anak hormat orang tua

               _Orang tua hormat anak_

Ketika hubungan tersebut dibalik, maka terjadi perubahan makna. Barangkali kejadian seperti itu kemudian muncul dalam beberapa ungkapan, misalnya kebo nyusu gudhel sebagai sebuah fenomena kebudayaan yang tidak lazim_._ Di sisi lain, hubungan paradigmatis memandang hubungan antara suatu struktur dengan entitas di luar struktur tersebut. Sebagai contoh, dalam kasus struktur orang tua-anak tersebut, seorang anak memiliki hubungan dengan dunia luar, orang tua memiliki hubungan dengan dunia luar pula, misalnya, dengan pekerjaanya, tetangganya, atau dengan pemerintah. Hubungan-hubungan tersebut lalu membntuk sistem kebudayaan yang lebih besar.

Langue dan parole dalam memahami intelligibility

Langue adalah 'bahasa' dalam tataran konsep, sedangkan parole adalah 'bahasa' dalam konteks praktis. Dalam konteks bahasa, umumnya dicontohkan 'pohon adalah tumbuhan yang memiliki batang menghasilkan oksigen' adalah sebuah langue dan dalam tataran parole setiap daerah akan menamakan konsep tersebut dengan beberapa leksikon yang mungkin berbeda, misalnya dengan nama 'pohon', 'plant', 'wit', dll. Dalam konsep kebudayaan, rasa saling hormat-menghormati sebagai contoh, adalah bagian dari berlangsungnya sebuah kebudayaan. Maka hormat-menghormati adalah sebuah 'langue'. Bentuk dari parole yang dipraktekan oleh masyarakat akan bervariasi, misalnya dalam masyarakat Jawa, 'bahasa' menghormati orang lain adalah (1) menggunakan bahasa yang sopan dalam bertutur kata, (2) berjabat tangan, (3) mencium tangan (anak kepada orang tuanya/gurunya), (4) meletakan kedua tangan di bawah perut, dan (5) sedikit merendahkan badan ketika melewati orang. Jika 'parole-parole' tersebut berubah, misalnya menggunakan bahasa kasar kepada orang lain, maka gejala ini dapat kita tandai adanya perubahan dari konsp budaya hormat-menghormati.

Kebudayaan dilihat secara sinkronis dan diakronis

Kajian kebuadayaan secara sinkronis akan menghasilkan deskripsi yang holistis akan suatu fenomena kebudayaan pada periode tertentu. Untuk mengetahui perubahan kebudayaan atau adakah perbedaan konsep kebudayaan dari waktu ke waktu maka kita perlu mengkajinya secara diakronis. Sebagai contoh, budaya permainan anak-anak pada tahun 90-an adalah hal-hal yang bersifat fisik. Permainan tersebut sebenarnya bukan sekedar permainan biasa, tetapi terdapat nilai-nilai filosofis yang sedang diajarkan, misalnya bagaimana kita bekerja sama seperti tercermin pada permainan gopak sodor, bagaimana kita berkonsenstrasi dan bestrategi seperti tercemin pada bermain kelereng, atau bagaimana kita mengenal konsep harta seperti tercermin pada permainan cublek-cublek suweng. Bila kita bandingkan secara diakronis dengan budaya permainan anak-anak zaman sekarang (yang sekarang dilabeli anak zaman__now atau kids zaman now) maka nampak jelas perbedaanya. Adanya perubahan medium permainan dari yang bersifat fisik dan bertemu langsung; adanya interaksi sosial, menjadi permainan individu yang dihabiskan di sebuah layar smartphone. Mungkin beberapa nilai-nilai tidak hilang karena hanya berubah medium, misalnya permainan yang mengajarkan kecepatan, ketelitian, dan kekayaan terdapat pada game-game modern. Akan tetapi, terjadi pengaruh yang besar, baik dari cara pikir anak-anak dan hal ini mempengaruhi pula sistem yang lain, misalnya sistem ekonomi suatu masyarakat di mana medium smartphone bukanlah harga yang murah, jika dibandingkan, misalnya, anak-anak bermain layang-layang atau kelereng yang harganya tentu jauh lebih ekonomis.

Mitos-mitos dalam fenomena Kids Zaman Now

Tidaklah mungkin fenomena kids zaman now terjadi manakala tidak ada struktur-struktur yang membentuknya. Bisa juga struktur-struktur tersebut terjadi karena penyimpangan-penyimpangan sehingga membentuk struktur baru yang membentuk sebuah kebudayaan yang baru pula. Jarang sekali, suatu fenomena kebudayaan mengangkat anak-anak sebagai objek yang diungkapkan. Umumnya adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan masyarakat dewasa. Jika di dalam bahasa, metafora bisa menjadi makna leksikal tanpa kita sadari, misalnya pencakar langit yang terdapat di entri kamus, maka dalam kebudayaan ada hal konotatif yang didenotasikan oleh masyarakat, sehingga menjadi makna yang lumrah dan bertermia menjadi nilai yang dipandang sebagai makna denotatif. Fenomena seperti yang diungkapkan Barthes mengenai wrestling, misalnya_,_ juga muncul pada fenomena _ zaman now. Smartphone_ yang sejatinya digunakan untuk alat komunikasi pada awalnya, mengalami pergeseran sebagai konotasi 'teman' hidup; tidak bisa hidup tanpa smartphone. Bukan itu saja, Peruntukan ponsel yang dulu hanya untuk manusia dewasa, kini adalah hal yang wajar untuk anak-anak.Konotasi tersebut kini telah diamini oleh masyarkat menjadi makna denotasi.

Siapa yang menentukan pemaknaan?

Dalam suatu kebudayaan yang strukturalis. Orang yang tidak ada pun sangat dihargai keberadaannya; tidak bisa digantikan oleh struktur lain. Sebagai contoh yang sangat jelas adalah pada sistem pemerintahan, misalnya suatu surat akan sah jika ditandatangani oleh menteri. Sekalipun menteri tersebut sedang pergi selama 1 bulan, maka pembuat surat tidak akan berani menandatangani surat tersebut sendiri (kecuali yang sudah ditentukan tata urutannya). Di sini, pemaknaan diatur oleh peraturan dan kekuasaan.

Dalam beberapa hal, pemaknaan kebudayaan sangatlah dinamis. Pada umumnya, struktur yang dominan yang akan menguasai. Sebagai contoh, pemaknaan warna kuning secara umum di Jakarta adalah simbol kesedihan. Jika ada orang yang memaknai warna kuning sebagai simbol kebahagiaan karena, misalnya, hari pernikahan atau lamaran berwarna kuning, akan kalah dengan pemaknaan secara umum bahwa kuning adalah bermakna kesedihan. Dalam hal ini, pemaknaan yang dominan yang akan menang. Hal yang menarik barangkali yang sekarang sedang panas dibincangkan, yaitu masalah LGBT. Siapakah yang menentukan pemaknaan kebudayaan; Apakah hal tersebut adalah hal yang wajar atau melanggar pidana? Pemaknaan oleh masyarakat pada umumnya tentu hal tersebut adalah hal yang menyimpang dan pantas untuk dipidanakan. Akan tetapi, pemaknaan bahwa hal tersebut adalah hal menyimpanng atau termasuk pidana harus ditentukan oleh presiden dan DPR melalui Undang-Undang. Jadi di sini kuasa negara menentukan pemaknaan atas masyarakatnya.

Kesimpulan

Di balik suatu kebudayaan, tersimpan di baliknya struktur-struktur yang menyusunnya. Struktur-struktur tersebut saling berhubungan hingga membentuk suatu sistem kebudayaan. Pemaknaan pada akhirnya bersifat tidak ajeg. Dengan begitu, kajian strukturalis yang diprakasai oleh Sessure secara ketat akan lebih menarik jika melihat bahwa makna adalah dinamis, seperti yang dilakukan oleh Barthes atau Jakobson.

Daftar Sumber Bacaan

Hoed, Benny. (2008). Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: FIB UI

Christomy, T. & Untung Yuwono (eds.). (2004). Semiotika Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia

Sutrisno, M & Hender Putranto (eds). (2005). Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Barthes, Roland. (2011). Mitologi. (alih bahasa Nurhadi & Sihabul M). Bantul: Kreasi Wacana

Artikel Lainnya

Alternatif lain Agar Tidak Menggunakan Kata "very" di dalam Bahasa Inggris (Bagian 1)
Semantik Gramatikal dan Semantik Leksikal; di mana Batas Perbedaannya?
Belajar Bentuk Kata Tanya, Kalimat Tanya, dan Kalimat Pernyataan dalam bahasa Jerman
Kalimat Inversi: Kalimat yang Predikatnya Mendahului Subjek?
Berkenalan dengan Ilmu Linguistik: Ilmu Bahasa
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi